Perkataan Hitler Tentang
Yahudi dan History Rachel Corrie
Bangsa Yahudi Israel
beberapa hari terakhir ini kian terkutuk. Seolah-olah Israel telah menjadi
musuh bersama bangsa-bangsa lain di bumi ini. Apalagi penyebabnya kalau bukan
insiden penyerangan terhadap kapal Mavi Marmara di Senin pagi. Tidak hanya para
pimpinan dunia yang mengeluarkan kecaman keras terhadap Israel. Situs-situs
jejaring sosial beberapa hari ini dibanjiri komentar, kecaman, kutukan terhadap
Israel.
Yang ironis, tidak sedikit
publik yang menyatakan penyesalannya atas kejatuhan Nationalsozialismus alias
Nazi dalam perang dunia kedua. Tak lain alasannya, partai bentukan sang fasis,
Adolf Hitler, itulah yang paling getol membasmi keturunan Yahudi di semua
pelosok negeri jajahan Jerman di belahan Eropa.
Menariknya, pasca insiden
Mavi Marmara, entah kebetulan atau tidak, di situs-situs jejaring sosial
tersebar sebuah pernyataan yang konon dilontarkan Hitler semasa jayanya.
Pernyataan itu jika disimak seakan menjadi misteri dasar kebijakan genosida
Nazi Jerman terhadap kaum Yahudi di Eropa. Namun, genosida Yahudi oleh Nazi di
masa kini kembali dijadikan polemik, mitos atau bukan?
"Ich konnte all die
Juden in dieser Welt zu zerstören, aber ich lasse ein wenig drehte-on,so können
Sie herausfinden, warum ich sie getötet"
"Bisa saja saya
musnahkan semua Yahudi di dunia ini, tapi saya sisakan sedikit yang hidup, agar
kamu nantinya dapat mengetahui mengapa saya membunuh mereka"
Benarkah ada pernyataan
semacam di atas yang dilontarkan Adolf Hitler yang ternama itu? Hingga kini
kita juga belum pernah tahu. Mungkin saja ini sekedar informasi yang tidak
jelas alias hoax.
Memang terlepas dari benar
atau tidak, perkataan Hitler atau bukan tapi kenyataannya adalah memang benar
kelakuan bangsa Israel ini sungguh-sungguh diluar prikemanusian. Berikut
foto-foto kekejaman tentara dan oran-orang Yahudi, bahkan anak-anakpun
diajarkan bagaimana memperlakukan orang Palestina.
Tanggal 16 Maret kemarin,
genap enam tahun kematian Rachel Corrie, mahasiswi dan aktivis kemanusiaan asal
Olympia, Washington, Amerika Serikat. Ia datang ke Jalur Gaza bersama para
aktivis lainnya yang tergabung dalam International Solidarity Movement (ISM).
Corrie adalah bagian dari kisah kekejaman pasukan Zionis Israel di Palestina.
Corrie masih berusia 23 tahun ketika tentara Zionis Israel melindasnya dengan
buldoser buatan perusahaan Caterpillar hingga ia tewas. Peristiwa itu terjadi
pada 16 Maret 2003-beberapa hari sebelum serangan AS ke Irak-di Rafah, ketika
Corrie berusaha menghalang-halangi pasukan Zionis yang ingin menghancurkan
sebuah rumah milik warga Palestina.
Saksi mata mengatakan,
sopir buldoser Israel sengaja melindas Corrie karena saat itu posisi Corrie
terlihat jelas dan mengenakan jaket warna oranye menyala. Namun laporan militer
Israel yang dirilis pada bulan Juni 2003 menyebutkan apa yang terjadi pada
Corrie adalah “kecelakaan”.
Organisasi-organisasi hak
manusia mengkritik laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “laporan yang
menipu”. Setahun kemudian, kepala staff Menlu AS ( waktu itu dijabat Collin
Powell) Kolonel Lawrence Wilkerson mengatakan pada orangtua Corrie bahwa hasil
investigasi militer Israel “tidak kredibel, tidak menyeluruh dan tidak
transparan.”
Orang tua Corrie lalu
mengajukan gugatan hukum terhadap negara Israel, Militer Israel dan perusahaan
Caterpillar-perusahaan yang mengekspor kendaraan-kendaraan
berat ke Israel-pada tahun
2005 atas kematian puterinya. Namun pengadilan Federal menolak gugatan itu pada
tahun 2007, terutama gugatan terhadap perusahaan Caterpillar dengan alasan
mereka tidak bisa menuntut perusahaan yang berbasis di Illinois itu atau
menuntut Israel sebagai negara karena hal itu mengharuskan mereka untuk
mengeluarkan putusan hukum terkait kebijakan luar negeri AS yang sudah
ditetapkan Gedung Putih.
Dalam putusannya, tiga
hakim dalam pengadilan tersebut mengatakan bahwa gugatan orangtua Corrie tidak
bisa diproses lebih lanjut secara hukum. Karena jika dilanjutkan, sama artinya
pengadilan harus mempertanyakan secara implisit, bahkan mengecam kebijakan luar
negeri AS terhadap Israel.
Naima Shayer, warga
Palestina yang bersahabat dengan Corrie mengungkapkan kenangannya tentang
Corrie. Waktu itu, Corrie sudah tinggal bersama keluarga Naima selama 23 hari.
Naima tahu berita kematian Corrie dari keponakan perempuannya. Ia masih tak
percaya karena beberapa jam sebelumnya, Corrie masih segar bugar dan mencium
Naima berkali-kali sambil mengucapkan selamat tinggal. Naima tidak berfirasat
buruk karena Corrie memang sering bersikap seperti itu. Tapi ketika ia
menyaksikan berita kematian Corrie di televisi karena dilindas buldoser Israel.
Barulah ia percaya. Naima dan keluarga hanya bisa menangis. “Dia sangat baik
pada kami. Dia sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri,” kata Naima
mengenang Corrie.
Hari ini, para aktivis ISM
di kota Rafah memperingati enam tahun kematian Corrie dengan menerbangkan
layang-layang. Satu layang-layang diterbangkan untuk memperingati kematian
Corrie dan 14 layang-layang diterbangkan untuk menghormati sekitar 1.400 warga
Gaza yang menjadi korban agresi brutal Israel bulan Januari kemarin.
Salah satu peristiwa yang
paling populer didunia yang memperlihatkan kekejaman Israel, seorang pria
bernama Jamal yang terluka parah ditembak bersama anaknya Muhammad Al Durra
tewas oleh tentara Israel. Sang anak sudah berbicara kepada ayahnya dengan kata
kata " Demi Allah lindungi aku ayah" sambil ketakutan tapi dengan
membabi buta tentara Israel tetap menembaki mereka. Ketika ambulan yang mau
menyelamatkan sepasang ayah dan anak inipun tak lepas dari tembakan tentara
Israel, seorang supir ambulan Bassam al Bilbeisi tewas terkena tembakan. inilah
foto-fotonya...
Sumber: bakauheni.com, detikpos.net, wikipedia dan berbagai sumber.
Sumber: bakauheni.com, detikpos.net, wikipedia dan berbagai sumber.
Muslim Gaza, Yahudi dan
Hitler
Tiga kata di atas punya
keterkaitan. Mungkin masih ingat dengan seorang tokoh partai Nazi yang bernama
Adolf Hitler. Banyak orang menggolongkan Hitler adalah salah satu tokoh
terkejam terhadap kemanusiaan, diktator, penjahat perang dan lain-lain. Ketik
berbicara tentang Hitler, yang akan terbayang pada kepala adalah pembunuhan
atas berjuta-juta kaum komunis Soviet dan Yahudi di Jerman pada masa Perang
Dunia I. Atas kekejamannya membunuh jutaan kaum Yahudi tersebut, Hitler
dianggap sebagai tokoh pelanggar HAM berat.
Masa berganti masa, namun cerita tentang Hitler seolah-olah tak pernah habis untuk dibahas. Banyak sekali pendapat-pendapat yang ditulis, riset-riset yang ditemukan tentang apa dan siapa Hitler. Namun pernahkah kita menganalisis secara sederhana mengapa Hitler begitu kejam terhadap Yahudi? Bangsa Yahudi diakui sebagai bangsa yang besar, ras manusia yang punya potensi unggul, bahkan terbukti banyak dari golongan Yahudi yang kemudian menjadi orang-orang terkenal, tokoh terkemuka di segala bidang. Sentimen terhadap ras lah sebenarnya yang membuat Hitler begitu benci, karena ia menganggap bangsa Jerman (Ras Arya) adalah bangsa yang paling unggul dibandingkan dengan Yahudi. Sentimen tersebut kemudian ditambah lagi dengan suasan politik dan ekonomi yang dimainkan beberapa negara di Eropa pada masa Perang Dunia I.
Kekejaman Hitler terhadap kaum Yahudi sudah tidak diragukan lagi. Jutaan orang tewas di bunuh secara brutal dengan cara-cara yang beragam; ditembak, digantung, dan yang paling kejam adalah dibunuh secara massal dalam sebuah kamp konsentrasi yang diberi nama Auschwitz, dimana orang-orang Yahudi dibunuh dengan gas beracun secara massal dalam kamp tersebut. Apa dan bagaimana kekejaman Hitler di Auschwitz ini dapat kita saksikan dalam sebuah film dokumenter yang berjudul The Nazi’s and The Final Solution.
Masa berganti masa, namun cerita tentang Hitler seolah-olah tak pernah habis untuk dibahas. Banyak sekali pendapat-pendapat yang ditulis, riset-riset yang ditemukan tentang apa dan siapa Hitler. Namun pernahkah kita menganalisis secara sederhana mengapa Hitler begitu kejam terhadap Yahudi? Bangsa Yahudi diakui sebagai bangsa yang besar, ras manusia yang punya potensi unggul, bahkan terbukti banyak dari golongan Yahudi yang kemudian menjadi orang-orang terkenal, tokoh terkemuka di segala bidang. Sentimen terhadap ras lah sebenarnya yang membuat Hitler begitu benci, karena ia menganggap bangsa Jerman (Ras Arya) adalah bangsa yang paling unggul dibandingkan dengan Yahudi. Sentimen tersebut kemudian ditambah lagi dengan suasan politik dan ekonomi yang dimainkan beberapa negara di Eropa pada masa Perang Dunia I.
Kekejaman Hitler terhadap kaum Yahudi sudah tidak diragukan lagi. Jutaan orang tewas di bunuh secara brutal dengan cara-cara yang beragam; ditembak, digantung, dan yang paling kejam adalah dibunuh secara massal dalam sebuah kamp konsentrasi yang diberi nama Auschwitz, dimana orang-orang Yahudi dibunuh dengan gas beracun secara massal dalam kamp tersebut. Apa dan bagaimana kekejaman Hitler di Auschwitz ini dapat kita saksikan dalam sebuah film dokumenter yang berjudul The Nazi’s and The Final Solution.
Nah, masa Hitler telah
berlalu. Dihadapan kita sekarang masa telah berganti. Sekarang kita bisa
saksikan saudara-saudara kita di Gaza, Palestina sana bagaimana mereka bertahan
hidup dari serangan-serangan zionis Yahudi. Muncul satu pertanyaan dalam diri,
inikah yang ditakutkan oleh Hitler dulu? Ketika bangsa Yahudi terus berkuasa
dengan serakahnya, ketika dimana HAM yang mereka ciptakan toh mereka juga yang
melanggarnya? Jika saat ini kaum Muslim di seluruh dunia tengah mengutuki aksi
zionis Yahudi yang membunuhi kaum Muslim Palestina secara membabi buta, bahkan
menyatakan perang terhadap bangsa Yahudi, lantas bisakah kita memberikan
apresiasi dan ucapan ‘terima kasih’ kepada mendiang Hitler atas jasanya-paling
tidak- turut membantu dalam mengurangi jumlah kaum yahudi di dunia ini? Well,
yang saya ketahui dan yang pernah saya baca, Hitler tidak pernah membantai kaum
Muslim. Kaum Muslim bukan sasaran Hitler pada saat itu. Bahkan dari catatan
Hitler yang telah dibukukan berjudul Mein Kampf pun tidak pernah ada tulisan
Hitler yang menodai umat Muslim.
Terlepas dari benar atau
tidaknya tindakan Hitler terhadap kaum Yahudi atau terlepas dari bagaimana
sekarang zionis Yahudi membantai dengan sangat kejamnya umat Muslim Gaza
Palestina, yang jelas perang adalah kekejaman, perang adalah kejahatan luar
biasa terhadap kemanusiaan yang universal, dan perang hanya akan menimbulkan
kesengsaraan. Siapapun kita, jika masih punya nurani kemanusiaan, maka sudah
sepantasnya kita marah akan kekejaman yang dilakukan oleh zionis Yahudi
terhadap umat Muslim di Gaza Palestina.
Benak saya pun pada akhirnya bertanya-tanya tentang tokoh bernama Hitler ini, benarkah Hitler penjahat perang, tokoh paling durjana, pelanggar HAM berat? Jika kita lihat pada sudut pandang kenyataan sekarang bagaimana kekejaman yang luar biasa yang dilakukan zionis Yahudi terhadap umat Muslim Palestina? Siapakah penjahat perang sebenarnya? Dan bisakah Hitler digolongkan sebagai seorang Mujahid untuk jutaan Yahudi yang telah berhasil dibunuhnya? Mari bersama kita renungkan.
Benak saya pun pada akhirnya bertanya-tanya tentang tokoh bernama Hitler ini, benarkah Hitler penjahat perang, tokoh paling durjana, pelanggar HAM berat? Jika kita lihat pada sudut pandang kenyataan sekarang bagaimana kekejaman yang luar biasa yang dilakukan zionis Yahudi terhadap umat Muslim Palestina? Siapakah penjahat perang sebenarnya? Dan bisakah Hitler digolongkan sebagai seorang Mujahid untuk jutaan Yahudi yang telah berhasil dibunuhnya? Mari bersama kita renungkan.
"HOLOCAUST"
Setiap bulan Mei, tepatnya
tanggal 9, dunia Barat, khususnya mantan pasukan Sekutu, merayakan berakhirnya
Perang Dunia II. Bagaimana pun juga, perang yang akibatnya hampir melanda
seluruh dunia itu telah menorehkan sejarah tersendiri bagi umat manusia. Dunia
masih ingat, Perang Dunia II menyisakan kenangan tentang kekejaman paham
ultra-nasionalis Nazi, dan holocaust.
Holocaust adalah peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman dan kelompoknya selama Perang Dunia II. Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang artinya seluruh, dan caustos yang berarti terbakar. Secara asal, holocaust artinya adalah persembahan api atau pengorbanan religius dengan pembakaran. Konon, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 5,6 sampai 5,9 juta orang Yahudi.
Holocaust adalah peristiwa pemusnahan hampir seluruh Yahudi Eropa oleh Nazi Jerman dan kelompoknya selama Perang Dunia II. Orang Yahudi sering menyebut peristiwa ini sebagai Shoah, istilah Ibrani yang berarti malapetaka atau bencana hebat. Holocaust sendiri berasal dari bahasa Yunani, holo yang artinya seluruh, dan caustos yang berarti terbakar. Secara asal, holocaust artinya adalah persembahan api atau pengorbanan religius dengan pembakaran. Konon, Nazi Jerman dipercaya telah memusnahkan sekitar 5,6 sampai 5,9 juta orang Yahudi.
Kebencian Jerman
Latar belakang cerita pemusnahan ini terletak jauh setelah akhir Perang Dunia I (PD I) di mana Jerman berada pada pihak yang kalah. Waktu itu, banyak orang Jerman yang menyalahkan Yahudi sebagai sebab kekalahan Jerman pada PD I, beberapa bahkan mengklaim Yahudi telah berkhianat kepada negara selama perang. Tambahan lagi, pada akhir PD I, sekelompok Yahudi mencoba mengobarkan revolusi ala Bolshevik Soviet di negara bagian Jerman, Bavaria. Orang Jerman semakin menganggap Yahudi adalah musuh yang berbahaya bagi negara.
Saat itu, Nazi sebagai sebuah partai politik mampu menarik massa dengan basis pandangannya yang anti Semit. Hitler, pemimpin Nazi, menyalahkan keadaan buruk Jerman pada akhir PD I pada konspirasi Yahudi internasional. Nazi percaya Yahudi bertanggung jawab atas apa yang mereka sebut sebagai degenerasi masyarakat modern.
Ketika Nazi naik panggung politik, kebijakan yang menekan Yahudi pun diterapkan. Hak-hak Yahudi dicabut, harta benda mereka disita, rencana untuk mengusir mereka keluar Jerman dirancang, sampai, konon, pemusnahan fisik yang berarti pembantaian.
Musim semi 1941, Nazi mulai membantai Yahudi di Uni Soviet yang dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme. Orang Yahudi menggali lubang kubur mereka sendiri kemudian ditembak mati. Musim gugur tahun yang sama, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia. Kamp pembantaian untuk Yahudi mulai dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen. Kamp itu dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Mereka menggunakan kamar gas untuk membunuh orang Yahudi. Beberapa orang Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B, sebuah gas pestisida berbahan dasar asam hidrosianik, dialirkan. Ada juga cerita orang Yahudi yang dibakar hidup-hidup dalam tungku. Bahkan, ada yang percaya Nazi Jerman membuat sabun dari lemak orang Yahudi dan kelambu lampu dari kulit orang Yahudi.
Latar belakang cerita pemusnahan ini terletak jauh setelah akhir Perang Dunia I (PD I) di mana Jerman berada pada pihak yang kalah. Waktu itu, banyak orang Jerman yang menyalahkan Yahudi sebagai sebab kekalahan Jerman pada PD I, beberapa bahkan mengklaim Yahudi telah berkhianat kepada negara selama perang. Tambahan lagi, pada akhir PD I, sekelompok Yahudi mencoba mengobarkan revolusi ala Bolshevik Soviet di negara bagian Jerman, Bavaria. Orang Jerman semakin menganggap Yahudi adalah musuh yang berbahaya bagi negara.
Saat itu, Nazi sebagai sebuah partai politik mampu menarik massa dengan basis pandangannya yang anti Semit. Hitler, pemimpin Nazi, menyalahkan keadaan buruk Jerman pada akhir PD I pada konspirasi Yahudi internasional. Nazi percaya Yahudi bertanggung jawab atas apa yang mereka sebut sebagai degenerasi masyarakat modern.
Ketika Nazi naik panggung politik, kebijakan yang menekan Yahudi pun diterapkan. Hak-hak Yahudi dicabut, harta benda mereka disita, rencana untuk mengusir mereka keluar Jerman dirancang, sampai, konon, pemusnahan fisik yang berarti pembantaian.
Musim semi 1941, Nazi mulai membantai Yahudi di Uni Soviet yang dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme. Orang Yahudi menggali lubang kubur mereka sendiri kemudian ditembak mati. Musim gugur tahun yang sama, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia. Kamp pembantaian untuk Yahudi mulai dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen. Kamp itu dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Mereka menggunakan kamar gas untuk membunuh orang Yahudi. Beberapa orang Yahudi dimasukkan ke dalam kamar gas, kemudian gas Zyklon-B, sebuah gas pestisida berbahan dasar asam hidrosianik, dialirkan. Ada juga cerita orang Yahudi yang dibakar hidup-hidup dalam tungku. Bahkan, ada yang percaya Nazi Jerman membuat sabun dari lemak orang Yahudi dan kelambu lampu dari kulit orang Yahudi.
Sejarah Dipertanyakan
Selama kurang lebih 2 dekade, ‘sejarah’ pembantaian ini bertahan di benak orang. Kesaksian dan memoar orang Yahudi yang bertahan hidup dari holocaust menceritakan semua kengerian di atas. Sampai pada 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan The Drama of European Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini dari holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.
Arthur Butz menerbitkan The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry pada 1976. Ia mengklaim bahwa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang tapi untuk proses penghilangan bakteri pada pakaian.
Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan itu, dan bukan kamar gas.
Seorang ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu. Kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang.
Setelah orang-orang ini mempertanyakan kebenaran holocaust, gelombang kritisasi dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi di holocaust mulai bangkit. Mereka yang meragukan kebenaran holocaust ini menyebut dirinya sebagai revisionis.
Selama kurang lebih 2 dekade, ‘sejarah’ pembantaian ini bertahan di benak orang. Kesaksian dan memoar orang Yahudi yang bertahan hidup dari holocaust menceritakan semua kengerian di atas. Sampai pada 1964, Paul Rassinier, korban holocaust yang selamat, menerbitkan The Drama of European Jews yang mempertanyakan apa yang diyakini dari holocaust selama ini. Dalam bukunya, ia mengklaim bahwa sebenarnya tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas, dan jumlah korban tidak sebesar itu.
Arthur Butz menerbitkan The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry pada 1976. Ia mengklaim bahwa gas Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang tapi untuk proses penghilangan bakteri pada pakaian.
Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan itu, dan bukan kamar gas.
Seorang ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari AS, Fred Leuchter, pergi ke Auschwitz dan mengadakan penyelidikan serta tes di tempat itu. Kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang.
Setelah orang-orang ini mempertanyakan kebenaran holocaust, gelombang kritisasi dan penyangkalan terhadap apa yang terjadi di holocaust mulai bangkit. Mereka yang meragukan kebenaran holocaust ini menyebut dirinya sebagai revisionis.
Holocaust yang Meragukan
Secara umum, revisionis setuju dengan sejarawan lain bahwa negara Jerman di bawah Nazi memperlakukan Yahudi dengan kejam dan bengis. Pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi dari Jerman merupakan hal-hal yang masih diiyakan oleh para revisionis. Yang disangkal para revisionis adalah bahwa Jerman mempunyai kebijaksanaan tertentu untuk memusnahkan orang Yahudi dengan memasukkan mereka ke kamar gas atau tungku. Revisionis juga menyatakan jumlah 5,9 atau 6 juta korban sebagai pernyataan tanpa bukti yang dibesar-besarkan.
Keraguan-keraguan revisionis ini bersumber dari tidak adanya dokumen Jerman yang berisi masterplan pemusnahan orang Yahudi di Eropa. Tidak ada dokumen tentang perintah, rencana, anggaran, rancangan senjata untuk pemusnahan Yahudi. Yang ada hanyalah ucapan-ucapan petinggi Nazi yang menggambarkan kebencian terhadap Yahudi.
Foto-foto tawanan di kamp-kamp di Dachau, Buchenwald, dan Bergen-Belsen juga dipertanyakan penggunaannya. Memang, foto-foto itu menampilkan kondisi tawanan yang memprihatinkan. Tapi, revisionis yakin bukan penyiksaan dan kamar gas-lah yang menyebabkan mereka seperti itu. Sebabnya adalah lebih karena malnutrisi, epidemi tipus, disentri, dan diare. Penyakit-penyakit ini malah timbul sebagai akibat pemboman pasukan sekutu yang memutus jalur distribusi pangan, obat, dan pelayanan sanitasi.
Anehnya lagi, foto-foto yang selalu ditampilkan dalam sejarah adalah foto-foto yang mengerikan. Padahal pihak revisionis berhasil menemukan foto-foto yang diambil pada saat yang sama namun menampakkan para tawanan yang sehat. Mereka bercakap-cakap sambil tertawa di kamp. Ada kerumunan tawanan yang bergembira melempaarkan topi merayakan pembebasan mereka. Namun, mengapa foto-foto yang terakhir ini tak pernah muncul?
Kamar gas memang ditemukan di Auschwitz. Namun, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas beserta Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk eksekusi manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri di pakaian mati. Dari prosedur kesehatan inilah, mitor pembunuhan dengan kamar gas muncul.
Museum Auschwitz, museum tentang holocaust, selama 50 tahun mengklaim bahwa 4 juta manusia dibunuh di sana. Sekarang mereka malah mengklaim mungkin hanya 1 juta korban. Revisi klaim ini pun tidak didukung oleh dokumentasi 1 juta orang tersebut. Lalu, kebohongankah jumlah 3 juta manusia selama setengah abad itu?
Hal yang penting lagi adalah jika memang ada pembunuhan massal di Polandia terhadap Yahudi tentu Palang Merah, Paus, pemerintah sekutu, negara netral, pemimpin terkemuka waktu itu akan tahu dan menyebutnya dan mengecamnya. Tapi ternyata tidak ada.
Winston Churchill menulis 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyebut tentang program Nazi untuk membantai orang Yahudi. Eisenhower menulir memoarnya, Crusade in Europe, juga tak menyebut tentang kamar gas.
Secara umum, revisionis setuju dengan sejarawan lain bahwa negara Jerman di bawah Nazi memperlakukan Yahudi dengan kejam dan bengis. Pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi dari Jerman merupakan hal-hal yang masih diiyakan oleh para revisionis. Yang disangkal para revisionis adalah bahwa Jerman mempunyai kebijaksanaan tertentu untuk memusnahkan orang Yahudi dengan memasukkan mereka ke kamar gas atau tungku. Revisionis juga menyatakan jumlah 5,9 atau 6 juta korban sebagai pernyataan tanpa bukti yang dibesar-besarkan.
Keraguan-keraguan revisionis ini bersumber dari tidak adanya dokumen Jerman yang berisi masterplan pemusnahan orang Yahudi di Eropa. Tidak ada dokumen tentang perintah, rencana, anggaran, rancangan senjata untuk pemusnahan Yahudi. Yang ada hanyalah ucapan-ucapan petinggi Nazi yang menggambarkan kebencian terhadap Yahudi.
Foto-foto tawanan di kamp-kamp di Dachau, Buchenwald, dan Bergen-Belsen juga dipertanyakan penggunaannya. Memang, foto-foto itu menampilkan kondisi tawanan yang memprihatinkan. Tapi, revisionis yakin bukan penyiksaan dan kamar gas-lah yang menyebabkan mereka seperti itu. Sebabnya adalah lebih karena malnutrisi, epidemi tipus, disentri, dan diare. Penyakit-penyakit ini malah timbul sebagai akibat pemboman pasukan sekutu yang memutus jalur distribusi pangan, obat, dan pelayanan sanitasi.
Anehnya lagi, foto-foto yang selalu ditampilkan dalam sejarah adalah foto-foto yang mengerikan. Padahal pihak revisionis berhasil menemukan foto-foto yang diambil pada saat yang sama namun menampakkan para tawanan yang sehat. Mereka bercakap-cakap sambil tertawa di kamp. Ada kerumunan tawanan yang bergembira melempaarkan topi merayakan pembebasan mereka. Namun, mengapa foto-foto yang terakhir ini tak pernah muncul?
Kamar gas memang ditemukan di Auschwitz. Namun, para revisionis mengklaim bahwa kamar gas beserta Zyklon-B tidak mungkin digunakan untuk eksekusi manusia, melainkan untuk pengasapan pakaian agar bakteri-bakteri di pakaian mati. Dari prosedur kesehatan inilah, mitor pembunuhan dengan kamar gas muncul.
Museum Auschwitz, museum tentang holocaust, selama 50 tahun mengklaim bahwa 4 juta manusia dibunuh di sana. Sekarang mereka malah mengklaim mungkin hanya 1 juta korban. Revisi klaim ini pun tidak didukung oleh dokumentasi 1 juta orang tersebut. Lalu, kebohongankah jumlah 3 juta manusia selama setengah abad itu?
Hal yang penting lagi adalah jika memang ada pembunuhan massal di Polandia terhadap Yahudi tentu Palang Merah, Paus, pemerintah sekutu, negara netral, pemimpin terkemuka waktu itu akan tahu dan menyebutnya dan mengecamnya. Tapi ternyata tidak ada.
Winston Churchill menulis 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyebut tentang program Nazi untuk membantai orang Yahudi. Eisenhower menulir memoarnya, Crusade in Europe, juga tak menyebut tentang kamar gas.
Keuntungan dari Cerita
Sedih
Manakah yang benar? Revisionis atau pro-holocaust yang mempertahankan jumlah 6 juta korban, pembantaian terencana, dan kamar gas? Wallahu a’lam. Yang jelas ada keuntungan dari gembar-gembor holocaust yang mungkin dilebih-lebihkan ini. Keuntungan tersebut adalah untuk orang Yahudi.
Yahudi yang merasa menjadi korban kemudian meminta tanah di Palestina, meminta ganti rugi kepada Jerman, dan meminta dana pembangunan ke negara lain sambil terus memelihara ingatan dunia akan holocaust. Rakyat Palestina-lah yang menderita.
“Seluruh negara Yahudi dibangun di atas kebohongan holocaust.. apa bukti Hitler dan Nazi membunuh 6 juta Yahudi di kamar gas? Tidak ada bukti sama sekali, kecuali kesaksian dari sedikit Yahudi yang selamat. Jika 6 juta Yahudi telah dibakar, tentu akan ada segunung abu manusia, tapi kita tidak pernah mendengarnya. Tidak ada juga oven yang mampu membakar jutaan orang tanpa ada yang mencium baunya. Tidak ada bukti tentang sejumlah itu Yahudi yang hidup di Jerman pada 1930-an. Jumlah mereka kurang dari 4 juta dan setengah dari mereka telah mengungsi ke Soviet selama perang.” Kata Mahmud Al-Khatib di harian Al-Arab Al-Yaum di Yordania.
Mufti Jerusalem, Syaikh Ikrimah Sabri, di New York Times berkata, “Banyak terjadi pembunuhan massal di dunia ini. Mengapa holocaust ini terasa lebih penting? Jika ini adalah permasalahan kita, tak ada yg peduli –entah ketika tentara perang Salib membantai muslim atau pembunuhan massal terhadap rakyat Palestina oleh Israel. Dan kita tidak terus menerus menggunakan dan menggunakan pembantaian ini untuk mengingatkan dunia tentang hutang dunia terhadap kita.
Saya tidak pernah menolak bahwa holocaust terjadi, tapi kita percaya bahwa jumlah 6 juta itu dilebih-lebihkan. Yahudi menggunakan isu ini, dalam banyak cara, untuk memeras Jerman secara finansial. Holocaust merupakan alasan bahwa tidak ada kerusuhan yg lebih besar terhadap Israel sebagai sebuah kekuatan pendudukan. Holocaust melindungi Israel. Bukanlah kesalahan kita jika Hitler membenci Yahudi. Bukankah mereka (Yahudi) sangat dibenci di mana pun?”
Manakah yang benar? Revisionis atau pro-holocaust yang mempertahankan jumlah 6 juta korban, pembantaian terencana, dan kamar gas? Wallahu a’lam. Yang jelas ada keuntungan dari gembar-gembor holocaust yang mungkin dilebih-lebihkan ini. Keuntungan tersebut adalah untuk orang Yahudi.
Yahudi yang merasa menjadi korban kemudian meminta tanah di Palestina, meminta ganti rugi kepada Jerman, dan meminta dana pembangunan ke negara lain sambil terus memelihara ingatan dunia akan holocaust. Rakyat Palestina-lah yang menderita.
“Seluruh negara Yahudi dibangun di atas kebohongan holocaust.. apa bukti Hitler dan Nazi membunuh 6 juta Yahudi di kamar gas? Tidak ada bukti sama sekali, kecuali kesaksian dari sedikit Yahudi yang selamat. Jika 6 juta Yahudi telah dibakar, tentu akan ada segunung abu manusia, tapi kita tidak pernah mendengarnya. Tidak ada juga oven yang mampu membakar jutaan orang tanpa ada yang mencium baunya. Tidak ada bukti tentang sejumlah itu Yahudi yang hidup di Jerman pada 1930-an. Jumlah mereka kurang dari 4 juta dan setengah dari mereka telah mengungsi ke Soviet selama perang.” Kata Mahmud Al-Khatib di harian Al-Arab Al-Yaum di Yordania.
Mufti Jerusalem, Syaikh Ikrimah Sabri, di New York Times berkata, “Banyak terjadi pembunuhan massal di dunia ini. Mengapa holocaust ini terasa lebih penting? Jika ini adalah permasalahan kita, tak ada yg peduli –entah ketika tentara perang Salib membantai muslim atau pembunuhan massal terhadap rakyat Palestina oleh Israel. Dan kita tidak terus menerus menggunakan dan menggunakan pembantaian ini untuk mengingatkan dunia tentang hutang dunia terhadap kita.
Saya tidak pernah menolak bahwa holocaust terjadi, tapi kita percaya bahwa jumlah 6 juta itu dilebih-lebihkan. Yahudi menggunakan isu ini, dalam banyak cara, untuk memeras Jerman secara finansial. Holocaust merupakan alasan bahwa tidak ada kerusuhan yg lebih besar terhadap Israel sebagai sebuah kekuatan pendudukan. Holocaust melindungi Israel. Bukanlah kesalahan kita jika Hitler membenci Yahudi. Bukankah mereka (Yahudi) sangat dibenci di mana pun?”
Detil-detil
holocaust masih merupakan misteri. Yahudi masih berkepentingan menjaga
holocaust semengerikan mungkin sepanjang masa dengan cara apa pun. Revisionis
masih mengungkap konspirasi di balik propaganda holocaust ini. Alhamdulillah,
umat Islam di negeri kita sekitar sepuluh tahun lalu menolak beredarnya film
Schlinder’s List yang menceritakan penderitaan Yahudi di bawah Nazi. Jika kita
menontonnya, mungkin kita akan menangisi penderitaan orang Yahudi dan lupa akan
betapa biadabnya Yahudi membantai rakyat Palestina
SUMBER : coteng-kekejamanperangnazi.blogspot.co

Tidak ada komentar:
Posting Komentar